INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

ANTISIPASI HOLIDAY BLUES PASCALIBURAN

Holiday Blues_Featured

Post by. Thomas Adrian

Date: May 12, 2022

Lebaran telah berlalu dan liburan pun akhirnya usai. Cuti dan uang sudah habis dipakai untuk bepergian ke kampung halaman atau hanya sekadar liburan di dalam kota. Saatnya rekan-rekan kembali ke kantor untuk bekerja. Tapi, beberapa hari pertama pasti akan terasa sangat berat untuk dijalani karena mood liburan masih tersisa. Kalau sampai mengalami ini, bisa jadi rekan-rekan mengalami Holiday Blues.


Mengutip dari National Alliance on Mental Illness (NAMI)Holiday Blues adalah perasaan cemas dan stres pascaliburan yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Lebih lanjut lagi, NAMI menyatakan bahwa sebenarnya Holiday Blues bukanlah penyakit mental, tapi masalah kesehatan mental yang harus ditanggapi dengan serius; jika masih dialami lebih dari dua pekan, maka bukan tidak mungkin dapat menjurus ke arah depresi atau cemas berlebih. Maka dari itu, rekan-rekan harus mencermati gejala-gejala Holiday Blues. Dilansir dari laman web kesehatan mental milik British Columbia Children’s Hospital, foundrybc.ca, gejala Holiday Blues yang kerap dialami oleh orang-orang pascaliburan adalah:

•        Kelelahan; tak memiliki daya atau energi

•        Kehilangan motivasi

•        Kesedihan atau rasa kehilangan akan sesuatu


Jika rekan-rekan mengalami Holiday Blues, lebih baik segera ditangani agar tidak berkepanjangan. Jika berlanjut, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan performa atau kinerja rekan-rekan di tempat kerja. Agar tidak berlanjut dan mengganggu, maka rekan-rekan harus melakukan hal-hal berikut untuk mengantisipasinya:

1.        Menyisihkan waktu

Me time adalah hal yang penting untuk membuat diri menjadi lebih rileks dan istirahat sejenak. Lebih baik, rekan-rekan menyisihkan waktu sejenak, sehari atau dua hari, untuk rehat sejenak, santai tanpa memikirkan banyak hal agar stres semakin berkurang. Fokuslah ke diri sendiri, makan yang baik, dan tidur yang cukup sebelum kembali bekerja. Rebahan sambil menonton serial favorit juga akan membantu meningkatkan mood sebelum kembali bekerja. Selain itu, mungkin rekan-rekan juga bisa memberikan jarak antara selesai liburan dengan hari pertama masuk kerja, misalnya dengan pulang sehari-dua hari sebelum cuti usai atau menambah cuti. 


2.        Jaga hati,jaga ekspektasi

Liburan usai berarti rekan-rekan harus kembali ke realita: bekerja pagi hingga sore demi sesuap nasi dan nafkah untuk keluarga tercinta. Maka dari itu, rekan-rekan harus menyadari bahwa liburan hanyalah selingan sementara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga atau dengan sanak saudara dan foto-foto liburan yang rekan-rekan unggah di sosial media hanyalah memori yang tersisa, bukan realita kehidupan yang nyata dan dijalani sehari-hari. Lebih baik jaga hati dan ekspektasi agar tidak melulu membayangkan liburan yang sudah terlewat.


3.        Santai sejenak

Kalau rekan-rekan sudah kembali masuk kerja, maka lebih baik jangan langsung bekerja secara penuh atau serius pada hari pertama. Mungkin rekan-rekan bisa memanfaatkan hari pertama sampai hari ketiga untuk bersilaturahmi dengan rekan kerja atau lingkungan sekitar ruangan kantor, berbagi cerita soal arus mudik dan arus balik, atau membatasi jumlah pekerjaan yang dikerjakan. Dengan begitu, beban hari-hari awal kembali bekerja tidak terasa berat dan masih ada cukup waktu untuk mengembalikan mood bekerja. Tapi awas, jangan terlena dengan situasi santai; jangan sampai santai berlarut-larut hingga sepekan. Salah-salah, rekan-rekan malah ditegur oleh atasan. 


Ingatlah rekan-rekan, liburan itu hanya sementara; pekerjaan lah yang abadi. Janganlah terlalu santai setelah liburan agar tidak terkena masalah lagi dan lagi. Selamat menunaikan pekerjaan setelah liburan Idulfitri, ayo bekerja lagi untuk mengumpulkan pundi-pundi. Setelah terkumpul, mari liburan lagi!


Salam #PeopleDevelopment!


Sumber:

Definisi dan ciri-ciri Holiday Blues

Gejala Holiday Blues