INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

EKONOMI PERILAKU MENENTUKAN GAYA HIDUP

EKONOMI PERILAKU MENENTUKAN GAYA HIDUP

Post by. Yunira

Date: June 30, 2021

Ekonomi perilaku merupakan pemahaman mengenai perilaku manusia dengan menggabungkan ilmu psikologi, pertimbangan, pengambilan keputusan, dan kondisi ekonomi.


Dalam buku Misbehaving: Terbentuknya Ekonomi Perilaku (2015), Richard H. Thaler menyebutkan konsep akuntansi mental; yang mana sebelumnya sudah disebutkan dalam makalah yang ditulis oleh Amos dan Danny. Singkatnya, konsep ini adalah: “Bagaimana orang berpikir mengenai uang?”


Thaler bersama seorang mahasiswa melakukan wawancara kepada orang yang mengatur uang di rumah tangga. Tujuan wawancara ini mendapat kesan umum mengenai bagaimana orang berpikir mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga. Jadi, bagaimana kita bisa berpijak ke realitas dan sangat memengaruhi semua itu. Sebagai contoh, jika Anda membayar Rp 35.000,- untuk beli roti, apa Anda merasa habis kehilangan uang sebesar Rp 35.000,-? Untuk transaksi rutin, tentu jawabannya tidak. Namun, ketika hal tersebut bukan kegiatan rutin, akan membuat Anda merasa rugi atau kehilangan. Kehilangan uang senilai tiga puluh ribu rupiah terasa meyakitkan daripada kesenangan mendapat Rp 15.000,-.


Dari kejadian ini, Thaler pun mendapat rumusan yaitu utilitas akuisisi dan utilitas transaksi. Utilitas akuisisi merupakan surplus yang tersisa sesudah kita mengukur utilitas objek yang didapat lalu mengurangi biaya kesempatan yang harus dilepas. Jadi, utilitas akuisisi akan terasa lebih banyak ketika konsumen menilai sesuatu lebih besar daripada pasar. Ketika Anda memiliki tempat tidur ukuran double, utilitas akuisisi selimut yang pas ukurannya dengan tempat tidur itu bakal lebih besar daripada selimut yang kebesaran. Sedangkan utilitas transaksi adalah harga yang benar-benar dibayar untuk objek yang dibeli dan harga yang normalnya diharapkan untuk dibayar, harga referensi. Jika harga sebenarnya lebih tinggi dari harga referensi, maka yang timbul adalah utilitas transaksi negatif, kesan “mahal”. Sementara itu, utilitas transaksi positif, “murah”, jika harga sebenarnya di bawah harga referensi.


Bagi rekan-rekan yang setidaknya hidup nyaman, utilitas transaksi negatif bisa mencegah kita mengonsumsi pengalaman istimewa yang akan menyediakan kenangan indah sepanjang hidup, dan harganya yang kemahalan akan terlupakan. Di sisi lain, harga murah bisa membujuk kita semua membeli benda yang kurang berharga. Bahkan memiliki benda itu karena merasa “mesti dibeli”, namun nyatanya jarang dipakai.


Lalu, bagaimana membangun ekonomi perilaku yang bisa digunakan di berbagai keadaan? Berikut tiga pelajaran dasar yang dirumuskan oleh Richard Thaler diantaranya.

  1. Amati - Melakukan pengamatan sederhana dan melihat dunia apa adanya, bukan menurut keinginan pihak lain.
  2. Kumpulkan data - Mencatat data secara sistematis, sehingga dapat menghindari jebakan bias konfirmasi dalam keadaan tertentu. Hanyalah data yang bisa membuktikan kekeliruan.
  3. Berani berbicara - Jika bersedia memberitahu saat ada yang keliru, hal-hal yang tak diinginkan dapat dicegah dengan mudah.


Setelah membaca ini, rekan-rekan dapat memahami alasan mengapa aktor ekonomi melakukan tindakan tertentu. Semoga rekan-rekan dapat menemukan cara-cara yang yang lebih efektif di mana pilihanmu dibingkai serta diarahkan ke arah tindakan yang lebih diinginkan.