INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

HIDUP SAYA MENGALIR BAGAI AIR SAJA

HIDUP SAYA MENGALIR BAGAI AIR SAJA

Post by. Ubaydillah Anwar - Associate Trainer

Date: September 13, 2019

Dalam bahasa keseharian, kita kerap mendengar kalimat seperti di atas diucapkan seseorang untuk menjelaskan gaya perjuangan hidup yang menjadi mazhabnya.


Seorang kawan yang kebetulan menjadi trainer manajamen sempat mengutarakan kebingungannya. “Seperti apa maksud mereka mengatakan hidup mengalir seperti air itu? Bukankah harus punya tujuan dan perencanaan? Bukankah harus ada kerja keras?” ungkapnya di hadapan saya.


Sampai sekarang pun saya baru sebatas bisa menduga bahwa ketika seseorang melontarkan ucapan di atas, maksud yang hendak dipahamkan adalah gaya perjuangan hidupnya yang tidak mau ngoyo, tidak perlu memiliki tujuan tertulis, dan tidak perlu susah-susah punya perencanaan segala untuk mewujudkan keinginan.  Pokoknya ya mengalir!


Lalu, apa salah? Salah dalam arti menabrak rambu, pasti tidak. Bahkan jika gaya seperti itu bisa mendatangkan hasil yang bagus, itu yang dicari banyak orang. Cuma, jika hasilnya menurut Anda perlu dikorensi dengan tinta merah atau dengan air mata, saatnya kita perlu membedakan gaya mengalir plus dan gaya mengalir minus. 


 

Gaya  Mengalir Plus

Gaya  hidup mengalir kerap dipraktikkan oleh orang yang telah mencapai kualitas  kompetensi tingkat tinggi di bidang apapun. Menurut teori yang dikembangkan oleh Gordon International (1969), ciri utama pencapaian kompetensi tingkat tinggi adalah “unconscious competence” atau kompetensi level IV.


Di level itu, seseorang sudah bisa menerapkan keahliannya dalam tugas, pekerjaan atau peranan tanpa “mikir”, tidak tegang, pede, atau mengalir.  Nalurinya, instingnya, atau kecerdasannya telah bekerja secara total dan reflektif. Anda bisa lihat ini pada seorang sopir bis berpengalaman tahunan yang bisa mengendalikan bus dalam kecepatan tinggi sambal bercanda.


Seorang manajer yang telah mencapai kompetensi tingkat itu, ia bisa mengambil keputusan dengan cepat meskipun datanya minim. Bahkan ia mampu menyeken masalah dengan melihat tanda-tanda yang “ghaib” atau hanya dengan melihat pola. Sebelum perencanaan ditulis, ia telah melukisnya di alam mental.


Almarhum Bob Sadino bisa menjadi salah satu idola legendaris untuk hal ini. Beliau sering mengatakan dirinya menjalankan bisnis “tanpa perencanaan”. Secara kompetensi bisa ditafsirkan bahwa karena beliau sudah punya jam terbang tinggi dalam bisnis, maka semua perencaan sudah tertulis di pikirannya dan di hatinya tanpa “mikir”.  

 

Gaya hidup mengalir kerap juga dipraktikkan oleh orang yang telah mencapai kualitas spiritual tingkat tinggi. Osho, tokoh spiritual asal India dalam Creativity (1999) punya istilah harmony between the body and the consciousness. Biarkan gerak Anda berdansa dengan takdir. Matikan itu kehendak diri yang dipenuhi ambisi dan egoism. Pasal penting dalam ajaran sufi adalah al-hayatu musayyarun  wala mukhoyyarun (hidup ini digerakkan oleh kekuatan, bukan disuruh memilih).


Untuk mencapai tingkat itu, doktrin spiritual Tao (The Tao of Leadership, Jhon Haeder: 2005) mengajarkan to facilitate reality: memfasilitasi dan mengakomodasi realitas, bukan menentang atau ingin menghindari. Memfasilitasi realitas adalah mengkondisikan jiwa untuk bersedia dididik oleh Tuhan dengan manis-getir-pahit-kecutnya realita. Hasilnya pasti tidak tegang, lebih tercerahkan atau mengalir.


Misalnya seseorang mendapatkan pekerjaan tidak sesuai ekspektasinya atau ijasahnya. Pada spiritual  tingkat tinggi, ia akan menerima lebih dulu untuk mempelajari apa yang diajarkan realita itu lalu mengoptimalkan diri. Tapi pada spiritual tingkat rendah, ia menolak, menyalahkan, lalu merasa segalanya menjadi menyebalkan dan mengecewakan. Memfasilitasi realita adalah jalan spiritual untuk menjadi matang.


Artinya, gaya hidup mengalir yang dihasilkan dari penerapan kompetensi tingkat tinggi dan pencapaian spiritual menjadi gaya perjuangan yang plus (+). Tetap punya tujuan dan tetap punya rencana, tapi dalam menjalankannya sudah begitu mengalir, tidak tegang oleh dikte ketakutan, dan mantap melangkah ke depan.


 

Gaya  Mengalir Minus  

Apa bedanya dengan gaya mengalir yang plus? Bila kita memilih tidak mengharuskan diri untuk memiliki rumusan tujuan, rumusan perencanaan, dan memperjuangkannya seoptimal mungkin, namun kita sadar kompetensi dan pencapaian spiritual kita belum tinggi, ini lampu kuning.


Jangan-jangan gaya seperti itu kita keloni karena ketidakjelasan kita melihat diri atau karena kemalasan kita untuk merebut peluang kemajuan. Inilah gaya mengalir yang minus (-). Disebut minus karena nanti setelah sekian tahun kita biasakan, ia akan mendatangkan hasil yang kita tolak.


Tidak memiliki tujuan yang menantang akan membuat berbagai kehebatan yang kita miliki tertidur atau ‘mengkeret’. Di samping itu, langkah kita juga tidak menyasar pada focus yang spesifik sehingga sulit dikembangkan dan dievaluasi.


Tidak terlatih untuk memperjuangkan tujuan yang di dalamnya ada berbagai peristiwa, akan membuat jiwa kita mudah diremukkan oleh realita. Kekuatan jiwa itu seperti batang pohon. Batang menjadi kuat karena terpaan angin dan sinar matahari. “Perjuanganlah yang membuat seseorang terlatih untuk menjadi kuat,” kata Arnold Schwarzenegger, sang bintang laga era baheula itu.


Para ahli di bidang soft skill telah menurunkan banyak pertolongan untuk menghentikan gaya mengalir yang minus ini. Di antaranya dengan menerapkan goal  setting, time management, atau effective planning, dan lain-lain.


Cuma, itu semua bantuan sifatnya (an aid to performance), bukan jaminan. Jaminan hanya dari Tuhan dan perusahaan asuransi!