INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MANUSIA MAKHLUK PARADOKSAL

Manusia Makhluk Paradoksal

Post by. Beni Dwi N

Date: November 05, 2018

Hampir setiap manusia mengalami tahap kehidupan mulai dari ia dilahirkan, dididik, bekerja,  bertumbuh, dan berkembang, sampai akhirnya menuju ke kematian. Manusia lantas disebut menjadi terbatas pada sebuah model alur yang diawali oleh kehidupan dan diakhiri oleh kematian. Meskipun, secara umum, alur tahapan  kehidupan manusia telah dapat dipetakan demikian, banyak dari mereka yang merasa ingin bergerak sebebas-bebasnya untuk keluar dari alur seperti itu.


Inilah salah satu sisi paradoks manusia. Ia terbatas (oleh raganya, misalnya) namun selalu berpikir akan ketidakterbatasan. Contoh lainnya adalah bahwa manusia cenderung tertutup karena hanya dialah yang mengerti apa yang ada dalam dirinya. Namun, ia juga selalu berusaha untuk terbuka dan melampaui dirinya, bahkan ingin mengetahui diri yang lain. Ia memiliki hak asasi, namun pada saat yang sama hak asasinya terbatas oleh hak asasi orang lain. Manusia adalah mahkluk rohani yang dapat membangun hubungan rohaniah dengan Tuhannya. Namun, ia juga mahkluk jasmaniah yang memerlukan dan melakukan pengalaman indrawi.


Paradoks manusia memperlihatkan sisi yang saling bertentangan dalam dirinya. Kedua sisi yang saling bertolak belakang itu tidak mungkin didamaikan, bahkan dalam proses hidupnya manusia akan selalu mengalami sisi paradoksal tersebut. Uniknya, kedua sisi itu akan selalu ada "bersatu" dalam diri manusia. Sisi paradoksal bukan berarti kedua sisi itu bersifat kontradiktif. Jika bersifat kontradiktif, salah satu sisi akan mengalahkan sisi yang lain.


Dalam dunia kerja, kita bisa menggunakan pemahaman paradoksal ini untuk melihat berbagai gejala. Misalnya, dalam bisnis selalu ada cost dan revenue, ada high-pressure times dan refreshment times, ada peak season dan low season, ada pemimpin dan bawahan (bahkan pemimpin tersebut bisa jadi adalah bawahan dari pemimpin yang lebih tinggi lagi), dan seterusnya.


Pemahaman atas dua sisi yang bertentangan semacam ini dibutuhkan bagi siapa saja; terutama bagi orang yang ingin mengalami keseimbangan. Mereka yang tidak ingin masuk ke salah satu ekstrim harus mampu melihat realitas paradoksal dalam diri manusia dan dalam pekerjaannya secara seimbang. Celakanya, ketika manusia masuk ke salah satu ekstrim, ia cenderung menjadi membabi buta dan tidak dapat melihat indah realitas yang beragam.


Apa yang ditulis di sini sebenarnya sudah terangkum juga dalam kebijaksanaan khas budaya Timur yakni Ying dan Yang. Ada hitam dan putih dalam satu kesatuan lingkaran. Hitam dan putih berbagi tempat dan mengambil bentuk yang adil  karena mereka selalu menawarkan keseimbangan tanpa harus menjadi sama.