INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MEMBENTUK KEBIASAAN BAIK, HIDUP LEBIH PRODUKTIF

Produktif

Post by. Yunira Noor Rachmah & Aulia Rachma

Date: April 27, 2022

Terkadang, kita merasa heran ketika melihat seorang atlet yang mampu latihan selama berjam-jam, penulis yang mampu menulis hingga ribuan lembar, atau penyanyi yang selalu mengasah suaranya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Mengapa mereka bisa mempertahankan komitmen untuk selalu berlatih?”. Dan pertanyaan ini belum tentu bisa dijawab sendiri hingga pada akhirnya muncul tafsir bahwa mereka bisa sukses karena kemauan yang tinggi dan mengusung semboyan “Just do it!” seperti sepatu olahraga terkenal itu. Semboyan ini memiliki makna untuk melakukan saja apa yang Anda pilih untuk dilakukan, dan jika kita memilih untuk tidak melakukannya maka Anda memilih untuk tidak melakukannya. Namun, mengapa mereka bisa berhasil sementara kita tidak (atau belum) berhasil? Mengapa yang sudah kita capai tampak kecil dibanding apa yang mereka capai? Akhirnya, kita pun merasa tidak percaya diri akan kemampuan diri sendiri.


Selama ini, pikiran kita sudah tertanam stigma “dengan niat dan tekad yang kuat, kita pasti bisa meraih sesuatu yang kita impikan”. Tidak ada yang salah dengan stigma tersebut. Tetapi, seringkali kita merasa berat untuk melakukannya karena banyaknya hambatan dan tantangan. Sebetulnya, niat dan tekad yang tinggi saja tidak cukup untuk membuat perubahan atau mencapai keberhasilan dalam hidup Anda. Lalu, apa yang harus dilakukan?


Salah satu solusi untuk mengatasinya adalah dengan membentuk kebiasaan. Wendy Wood, penulis buku “Good Habits, Bad Habits: Cara Membentuk Kebiasaan Baik untuk Menghasilkan Perubahan Positif” (2019), memaparkan bahwa kebiasaan adalah suatu tindakan/perilaku otomatis yang terjadi secara berulang dengan tanpa kita sadari. Kebiasaan juga dapat menciptakan kegigihan. Pada buku tersebut pula, Wendy Wood mengatakan ada tiga dasar untuk membentuk kebiasaan, yaitu:


1. Konteks

“Kebiasaan adalah kompromi antara individu dan lingkungannya.” – Samuel Beckett


Dari pernyataan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa lingkungan dapat memengaruhi kebiasaan yang kita lakukan. Begitu lingkungan berubah, kebiasaan pun mengikuti. Bahkan bisa kembali ke kebiasaan lama ketika ada kesempatan untuk melakukannya. Misalnya, Anda berniat untuk menurunkan berat badan, maka Anda bertekad untuk melakukan diet. Anda kemudian memberitahukan teman-teman kantor dan mengubah kebiasaan lama: yang biasanya bebas makan apa saja, Anda membatasi dan mengatur pola makan. Lingkungan pun mendukung Anda; mereka tidak makan makanan manis di depan Anda misalnya. Kemudian, Anda berhasil menurunkan berat badan dalam kurun waktu singkat. Tetapi, ketika Anda memutuskan untuk pindah kantor, maka otomatis lingkungannya juga berubah. Sehingga, Anda bisa saja kembali pada kebiasaan lama yang menyebabkan berat badan menjadi naik kembali.


Seorang psikolog terkenal, Kurt Lewin, percaya bahwa perilaku kita dipengaruhi oleh gaya atau kekuatan, sama seperti benda di dunia fisika yang mengalami gravitasi dan gaya mendasar lainnya. Beberapa tekanan yang berpengaruh pada kita berasal dari dalam diri sendiri, lebih tepatnya dalam bentuk sasaran, perasaan, dan kepribadian. Misalnya, ketika seseorang ingin memiliki badan yang bugar dan sehat, maka keinginan tersebut merupakan suatu gaya yang mendorongnya untuk rutin berolahraga setiap hari.


Bagi Lewin, konteks tempat kita berada (yang disebutnya “lingkungan”) juga menciptakan gaya pada perilaku kita. Dunia sekitar kita seperti orang yang bersama dengan kita, waktu kita dalam satu hari, serta tindakan/aksi yang kita lakukan juga merupakan konteks eksternal. Konteks eksternal dapat mengontrol tindakan kita; tidak hanya mendorong, tetapi juga menahan tindakan kita. Jadi, dalam persamaan Lewin yang terkenal, perilaku adalah sebuah fungsi atas seseorang dan konteks atau lingkungannya.


Dari kedua pendapat tersebut, maka konteks yang dimaksud adalah lingkungan. Artinya, untuk membentuk kebiasaan yang baik, dimulai dari dorongan diri sendiri dan lingkungan yang mendukung. Cobalah Anda hilangkan faktor yang dapat menghambat Anda, buatlah gaya pendorong yang tepat dan biarkan kebiasaan baik bergulir ke dalam hidup Anda. Misalnya, ketika Anda berniat untuk berhenti merokok, hambatan yang Anda miliki adalah lingkungan atau teman yang masih sering merokok di depan Anda. Maka, Anda dapat membuat gaya pendorong seperti Anda menghindarinya atau mencari lingkungan baru yang dapat mendukung Anda untuk berhenti merokok. Dengan begitu, kebiasaan baik akan bergulir ke dalam hidup Anda dengan tanpa disadari.


2. Perulangan

Perulangan berperan penting dalam membentuk kebiasaan baik. Namun, melakukan perulangan tidaklah mudah. Aksi/perilaku yang lebih rumit membutuhkan waktu perulangan lebih lama dibanding aksi/perilaku sederhana, sehingga tidak ada angka pasti. Tetapi, setidaknya kita harus melakukan 40-66 kali perulangan aksi/perilaku untuk membentuk kebiasaan secara otomatis. Semakin sering perilaku itu diulang, maka semakin besar peluangnya untuk menjadi kebiasaan otomatis yang kita lakukan. Tentunya, banyak tantangan dan godaan untuk mencapai angka tersebut. Salah satu tantangannya adalah ketika Anda melakukan aksi baru, maka Anda juga harus melawan aksi lama. Untuk mengatasi dan mengurangi angka perulangan, yang perlu dilakukan adalah membangun gaya pendorong yang lebih keras dan lebih besar setiap kali Anda melakukan perulangan dengan cara yang sama. Dengan begitu, kebiasaan menjadi cepat matang dan otomatis.


3. Imbalan

Imbalan adalah sesuatu yang kita dapatkan setelah kita melakukan sesuatu. Imbalan yang dimaksud di sini terbagi menjadi dua, yaitu imbalan intrinsik dan imbalan ekstrinsik. Imbalan intrinsik yaitu imbalan yang didapat dari bagian aksi/perilaku itu sendiri. Misalnya, ketika Anda rutin berbagi makanan kepada pemulung di jalan, Anda ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka saat kita memberinya makanan. Sedangkan, imbalan ekstrinsik merupakan imbalan yang didapat secara langsung dan tidak menyatu dengan aksi/perilaku. Misalnya, beberapa hotel menyediakan tempat tidur yang lembut, bathtub yang besar, kamar yang wangi, difasilitasi Wi-Fi dan TV agar kita merasa nyaman selama menginap di sana. Ini imbalan ekstrinsik langsung memotivasi orang agar berlibur di hotel. Mereka memanfaatkan hasrat orang agar terlihat berkelas dan unggul.


Dalam praktiknya, kebanyakan imbalan memadukan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Anda mungkin bekerja sampai malam di kantor karena ingin bekerja semaksimal mungkin untuk sebuah proyek (intrinsik), tetapi juga karena terus membayangkan pengakuan yang akan didapatkan dari atasan (ekstrinsik).


Ketika mendapat imbalan yang besar dan yang pasti, maka pikiran sadar kita menganggap imbalan tersebut akan menjadi motivasi. Namun, kebiasaan justru membutuhkan imbalan yang tidak pasti. Imbalan juga dapat dijadikan salah satu cara yang tepat untuk mengukur seberapa kuat kebiasaan yang sudah kita lakukan. Bagi ilmuwan, ketidakpekaan terhadap imbalan justru penting sekali untuk mengidentifikasi sebuah kebiasaan. Cara satu-satunya untuk memastikan apakah sebuah aksi telah menjadi kebiasaan adalah menguji apa yang terjadi ketika imbalan berubah. Kalau aksi itu tetap dijalankan bahkan jika kita tak lagi memedulikan imbalan, berarti aksi itu sudah menjadi sebuah kebiasaan.



Bagaimana rekan-rekan? Apakah Anda siap membentuk kebiasaan baik untuk meraih kesuksesan hidup dan menjadi lebih produktif? Yuk, kita bangun kebiasaan yang baik dengan didukung kegigihan dan komitmen pada diri sendiri.


Salam #PeopleDevelopment!