INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MEMPERTIMBANGKAN CAREER SWITCH DAN MENJADIKANNYA PILIHAN

Career Switch

Post by. Thomas Adrian

Date: August 15, 2022

Rekan-rekan, yang namanya belokan itu hanya ada dua: kiri dan kanan. Sering kita menemui situasi di mana kita harus memilih jalan mana yang ingin kita tempuh untuk mencapai tujuan; haruskah kota belok ke kiri atau mengarah ke kanan. Jika tujuan yang ingin dituju sama, maka itu semua adalah pilihan masing-masing individu. Pun ketika di dunia kerja, kadang kita menemui dilema; akankah meneruskan pekerjaan yang sedang digeluti atau pindah ke karier lainnya karena merasa passion lebih ke arah sana. Lagi-lagi, ini adalah pilihan. Jika memutuskan untuk berganti karier dari satu bidang yang pernah dijalankan ke bidang lainnya, maka itulah yang dinamakan career switch.


Apakah career switch itu nyata atau hanya ada di cerita-cerita fiksi saja? Apakah benar, misalnya, ada dokter yang berpindah pekerjaan menjadi pengusaha? Mungkin rekan-rekan pernah menemukan orang yang melakukan itu, atau bahkan pernah melakukannya. Tapi yang jelas, perpindahan karier menjadi sesuatu yang lumrah, apalagi dengan kemudahan akses untuk mempelajari hal-hal baru dewasa ini.


Perpindahan karier menjadi semakin mudah dan frekuensinya semakin sering. Latar belakang yang mendorong orang-orang untuk beralih karier bermacam-macam. Dilansir dari CNBC.com, pandemi yang menyebabkan fenomena “The Great Resignation” di Amerika Serikat menyebabkan lebih dari separuh generasi produktif memikirkan karier dan masa depannya setelah terhantam badai pandemi; terlebih bagi generasi muda usia 19-30 tahun yang paling banyak melakukan perpindahan karier di sana. Dan pandemi hanya satu dari sekian alasan banyak orang berbondong-bondong melakukan peralihan karier. CNBC.com melansir ada beberapa alasan orang-orang melakukan career switch, yaitu:


•        Work-life balance (56%)

Dengan adanya sistem Work from Home/Anywhere (WFH/WFA) saat ini, orang-orang mulai sadar bahwa kerja tidak melulu harus berpindah tempat; selain melelahkan, juga menghabiskan biaya. Lalu, jika bisa mengatur waktu dan pekerjaan, kenapa harus diatur lokasi dan pekerjaan? Maka dari itu, orang-orang mulai mencari keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.


•        Penghasilan lebih baik (50%)

Dengan adanya pandemi, orang-orang mulai berubah dari idealis ke realistis; hidup membutuhkan uang dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tidaklah mencukupi itu. Maka penghasilan jadi salah satu penyebab perpindahan karier.


•        Karier menjanjikan (49%)

Masih dilansir dari CNBC, Hannah Kohr melakukan perpindahan karier yang cukup ekstrem; dari pustakawan menjadi desainer produk. Hal itu dia lakukan karena pandemi membuatnya menyadari bahwa karier sebagai pustakawan tidak memiliki jenjang karier yang terlalu menjanjikan. Maka, jika memang jenjang karier kurang jelas, ada baiknya mempertimbangkan untuk mengalihkan karier. Tapi jangan lupa bekali dirimu dengan kemampuan yang sesuai dan menunjang.


•        Memperluas keahlian (43%)

Lumrah jika orang-orang ingin menjadi jack of all trades – orang yang serba bisa – agar memiliki nilai lebih dalam dunia kerja. Selain itu, keahlian atau kepakaran yang luas membuat peluang kerja menjadi semakin luas juga.


•        Ketidakjelasan bisnis di masa depan (27%)

Banyak jenis bisnis yang awalnya terlihat baik-baik saja dan diperlukan menjadi kurang baik dengan ketidakstabilan perekonomian yang melanda. Jika unit usaha tak mampu “bekerja sama” dengan zaman, maka akan tergilas zaman. Memang dibutuhkan visi jauh ke depan untuk melihat apakah rekan-rekan bekerja di bisnis yang rawan tergilas zaman atau tidak. Jika ya, maka tak ada salahnya untuk mengalihkan karier.


Perpindahan karier itu baik, tidak ada salahnya, dan lumrah dilakukan. Tapi, untuk pindah atau tidak itu keputusan masing-masing. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memampukan diri agar bisa langsung bekerja dan berkontribusi jika sudah melakukan career switch. Karena, ibarat kata, berperang tanpa persiapan adalah hal yang tak patut dilakukan.


Salam #PeopleDevelopment!


Sumber gambar: Freepik