INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MENYOAL BUDAYA KERJA DARI VIDEO VIRAL

Menyoal Budaya Kerja Dari Video Viral

Post by. Thomas Adrian

Date: June 08, 2021

Akhir-akhir ini, rekan-rekan dapat menemukan seorang Coach di bidang manajemen yang sedang viral di sebuah platform video pendek. Beliau menyatakan bahwa jika karyawan sakit tapi masih bisa bergerak, maka yang bersangkutan sebenarnya masih bisa datang bekerja ke kantor. Coach tersebut juga berkata bahwa karyawan yang izin tidak masuk kerja karena sakit sebenarnya berniat untuk menyabotase bisnis pimpinannya. Buntut dari pernyataan yang kontroversial tersebut, banyak orang yang mencaci dan berkata bahwa pemikiran seperti itu merupakan budaya kerja yang tidak sehat, lebih baik tidak dilakukan, dan sebagainya. Bahkan seorang dokter muda pegiat media sosial sampai memberikan tanggapan bahwa sakit yang sepele seperti demam saja tidak boleh dianggap remeh sama sekali. Walaupun pada akhirnya video tersebut dihapus, tapi gelombang protes dan meme di berbagai platform media sosial sudah kadung banyak bermunculan.


Merujuk pada budaya kerja di Indonesia, pada umumnya, tidak seperti yang dikatakan sang Coach viral tersebut; jika ada karyawan yang sakit maka yang bersangkutan akan memberi tahu melalui chat dan pimpinan biasanya akan menunggu surat sakit jika diperlukan. Pimpinan akan memaklumi. Walaupun ada beberapa kasus yang bertolak belakang dengan pernyataan di atas, tapi itu hanya sebagian kecil saja.


Sebenarnya, pada umumnya budaya kerja di Indonesia tidak terlalu ketat. Mungkin rekan-rekan bisa berkaca pada negara-negara lain. Mari jadikan Jepang sebagai contoh! Di Jepang, yang terkenal akan budaya kerja kerasnya, adalah sebuah hal yang umum untuk bekerja hingga larut malam – hingga jam kereta terakhir – atau bahkan menginap di kantor (Ono, 2018). Para karyawan yang workaholic itu bekerja hingga larut; hingga lelah dan stress. Hal ini berdampak negatif. Pada data tahun 2019 yang diambil dari statista.com, terdapat kurang lebih 2.000 kasus kematian akibat bekerja terlalu keras (karoshi) dan bunuh diri karena tekanan pekerjaan (karou-jisatsu). Selain itu, Jepang juga menoleransi tidur siang di tempat kerja (inemuri). Tidur siang di tempat kerja dianggap lumrah karena para pekerja di Jepang sangat workaholic hingga kurang tidur. Mengutip data dari BBC, rata-rata waktu tidur pekerja kantoran Jepang adalah yang paling rendah sedunia; hanya 6,5-7 jam per hari dibanding rata-rata dunia yang mencapai delapan jam per hari. Selain berdampak pada kurangnya jam tidur, hal ini juga berdampak tidak langsung pada menurunnya angka kelahiran negara Jepang. Para pekerja di Jepang sampai tak punya waktu untuk membangun hubungan atau memikirkan keturunan saking tersitanya waktu untuk bekerja.


Beda Jepang, beda pula Jerman. Para pekerja Jerman lebih tenang, aman, dan terjamin. Beberapa biaya hidup esensial, seperti biaya rawat di Rumah Sakit, sudah dijamin oleh negara sehingga para pekerja lebih fokus bekerja. Jika sakit, hanya tinggal mengabari atasan saja. Tak hanya itu, para pekerja Jerman menganut work-life balance: waktunya bekerja hanya dipakai untuk bekerja, setelah jam kerja usai maka pekerjaan ditinggalkan; hanya berkumpul bersama teman atau keluarga. Selain itu, dilansir dari usatoday.com, para pekerja Jerman juga mempunyai 24 hari cuti dalam setahun dan 9-13 hari libur nasional; yang menjadikan Jerman menduduki tiga negara teratas dengan hari libur terbanyak namun memiliki pendapatan per kapita tinggi. Berdasarkan gambaran di atas, para pekerja Jerman tidak menghadapi tingkat stres setinggi pekerja di Jepang. Hal-hal tersebut itulah yang membuat Jerman masih menjadi negara yang dikenal memiliki efektivitas kerja tinggi.


Melihat kedua contoh di atas, sebenarnya Indonesia memiliki beberapa kesamaan karakteristik budaya kerja dengan Jerman; pada umumunya pekerja Indonesia menganut work-life balance dan memiliki jumlah libur yang banyak. Sekilas, sepertinya hanya efektivitas para pekerjanya yang membuat Indonesia dan Jerman begitu berbeda. Namun hal ini butuh analisis lebih mendalam karena masih banyak faktor yang dapat memengaruhi. Namun begitu, contoh dari dua negara maju di atas tidak perlu diambil mentah-mentah. Para pemimpin perusahaan atau anak buah dapat mengambil contoh budaya kerja yang baik dan mengeliminasi yang dirasa kurang pas. Bagaimana pun, budaya kerja juga dibentuk dan dipengaruhi oleh kultur masyarakatnya.


Salam #PeopleDevelopment!