INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MENYOAL PENDERITAAN DARI SISI PROFESIONAL

Menyoal Penderitaan Dari Sisi Profesional

Post by. Thomas Adrian

Date: August 16, 2021

Jagat sosial media Indonesia sedang ramai membicarakan mantan Menteri yang terjerat kasus korupsi dana bantuan sosial (bansos) meminta untuk dibebaskan karena sudah lelah dengan penderitaan yang disebabkan oleh kasus tersebut. Dikutip dari Kompas.com, istri, kedua anak-anak yg masih kecil, serta keluarga besarnya ini mengalami penderitaan dan memohon agar tersangka dibebaskan dari dakwaan. Permohonan tersebut kemudian viral dan banyak warganet yang memberikan tanggapan; baik tanggapan miring maupun lucu. Menarik membahas soal ini, karena pada masa-masa seperti ini semua orang rentan mengalami penderitaan. Namun tidak akan dibahas secara mendalam, hanya dari sisi profesional saja.


Penderitaan (suffering) dideskripsikan sebagai perasaan negatif yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, enggan melakukan sesuatu, atau mengancam hingga menyakiti diri sendiri secara fisik maupun psikis (Spelman, 1997). Penderitaan yang umum dirasakan oleh para profesional umumnya berasal dari tekanan pekerjaan. Sebagai gambaran, survey yang dilakukan oleh Health and Safety Executive (HSE) Britania Raya pada periode tahun 2019/2020, lebih dari 800.000 pekerja mengalami penderitaan psikis yang disebabkan oleh pekerjaan dalam berupa stress, cemas berlebihan, dan depresi. Selain itu, jumlahnya mengalami tren peningkatan yang lumayan tinggi sejak tahun 2015.


Melihat data di atas cukup menggambarkan betapa rentannya kalangan profesional terhadap penderitaan. Tekanan dari lingkungan kerja serta atasan, beban pekerjaan yang terus menumpuk yang ditambah deadline yang mepet, tanggung jawab pekerjaan, serta kurang hadirnya dukungan dari sisi manajerial menyebabkan angkanya semakin naik dari tahun ke tahun. Terlebih dengan adanya Work from Home (WFH) di masa pandemi ini; jam kerja menjadi super fleksibel hingga menuntut pekerja untuk fokus bekerja melebihi jam kerjanya. Jam kerja seperti itu disebabkan oleh hustle culture atau budaya gila kerja yang marak di kalangan profesional muda; gaya hidup yang mendorong seseorang untuk bekerja terus menerus, kapan pun dan di mana pun. Budaya hustle culture ini sebenarnya kurang baik bagi kesehatan fisik dan psikis.


Kerap kali tanda-tanda seseorang mengalami penderitaan psikis kurang terlihat. Dirangkum dari buku The Palliative Response karya F. Amos Bailey M.D. (2005), sedikit lebih mudah bagi orang-orang untuk mencermati penderitaan fisik, seperti kurang tidur atau insomnia, kelelahan kronis, dan anoreksia, dibanding mencermati penderitaan psikis. Menurut Bailey, gejala somatik yang terlihat oleh mata kurang bisa menjadi acuan dalam menentukan apakah seseorang mengalami penderitaan psikis atau tidak karena masih bisa menjadi gejala acuan untuk penyakit lain. Maka dari itu, sebagai pekerja profesional, alangkah baiknya jika kita mampu peka terhadap kondisi rekan kerja. Temani, berikan saran, dan berikan keberanian untuk konseling bagi mereka yang memang membutuhkan.


Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membantu?

Dirangkum dari mentalhealth.org.uk, orang dengan penderitaan psikis dapat ditemani dan diajak bicara dari hati ke hati, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

•        Sediakan waktu; jangan sampai ada distraksi sekecil apa pun agar dapat fokus mendengarkan penderita.

•        Biarkan orang dengan penderitaan psikis menumpahkan keluh kesahnya. Tak perlu menghakimi, merasa sok tahu, atau merasa sependeritaan; mereka hanya butuh didengarkan. Perlu diingat bahwa penderitaan itu sifatnya subyektif.

•        Bertanyalah dengan model pertanyaan terbuka agar mereka mampu menjelaskan atau menceritakan. Lebih baik bertanya, “Apa yang kau rasakan?” daripada “Aku tahu yang kau rasakan.” 

•        Jika bukan dokter atau orang yang bergerak di bidang terkait, jangan melakukan diagnosis. Lebih baik sarankan mereka untuk pergi ke dokter atau konselor.


Mental health is important. Salam #PeopleDevelopment