INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MULAI HIDUP DAMAI TANPA OVERTHINKING

Overthinking

Post by. Yunira Noor Rachmah & Lusy Andari

Date: May 31, 2022

Rekan-rekan, menjalani kehidupan tentunya tidak terlepas dari berbagai macam tuntutan; pekerjaan, keluarga, anak, teman, dan sebagainya. Tentunya dibutuhkan kesabaran ekstra dalam menjalaninya, terlebih jika sewaktu-waktu kita dihadapkan dengan masalah. Pemikiran merupakan kunci agar kita dapat menjalani kehidupan dengan damai setiap hari. Terlalu banyak pikiran yang berlebihan atau overthinking justru hanya akan menambah beban pikiran dan membuat hidup kita menjadi gelisah setiap hari. Overthinking biasanya berasal dari kekhawatiran terhadap masa depan, masa lalu, ataupun terhadap masa kini. Misalnya, dahulu kita suka melakukan suatu hal tetapi sekarang tidak ingin lagi melakukannya. Hal yang menyebabkan itu mungkin bisa karena hal sepele, seperti misalnya terlalu memikirkan tanggapan orang lain. Penyebab permasalahan tersebut memang sepele akan tetapi bisa sangat mengganggu pikiran dan membuat hati kita menjadi gelisah ketika ingin melakukan hal yang serupa. Sebenarnya, kita hanya perlu mengabaikan dan tidak perlu memikirkan tanggapan itu, karena pada akhirnya hanya akan menjadi penghalang diri dalam melakukan sesuatu yang kita sukai.


Dalam buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan: Mengompromikan Perasaan dengan Kenyataan (2021) yang ditulis oleh Tsuneko Nakamura dan Hiromi Okuda, dituliskan kisah hidup dokter Tsuneko Nakamura, seorang psikiater yang sudah berkarier selama 70 tahun. Ia menjalani hidup dengan damai setiap hari dan tidak berpikir berlebihan. Lalu, bagaimana cara menjalani hidup damai sehari-hari ala dokter Tsuneko?


1.  “Jangan khawatir, ini pasti akan teratasi!

Betapa sia-sia dan mubazirnya waktu yang dilewatkan dengan depresi akibat hal-hal yang kadang kala hanya sebuah kesalahpahaman. Kita hidup di zaman yang penuh berkah, mungkin itulah yang menyebabkan kita terlalu jauh berpikir; memperbesar kekhawatiran dan memiliki perasaan yang kuat sebagai korban. Daripada hanya berpikir kejauhan dan tidak karuan, akan lebih bermanfaat jika kita yakin bahwa semua masalah yang dialami pasti akan teratasi.

 

2. Garis pembatas pengurang konflik

Membandingkan diri dengan orang lain lebih banyak kerugian daripada keuntungannya. Setiap kali rekan-rekan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, ketidakpuasan pasti akan muncul dan akhirnya membuat stres menumpuk. Banyak orang yang terjebak dalam pola ini dan dibuat menderita karenanya. Dengan menarik garis pembatas antara hidup orang lain dengan hidup kita, konflik dan stres akan berkurang.

 

3. Rahasianya adalah jarak

Jika timbul rasa tidak suka atau hubungan menjadi tidak baik dengan orang yang dekat di tempat kerja, tentu saja berangkat bekerja akan menimbulkan stres. Semakin kuat pikiran “tidak suka” dan “merasa berat,” pikiran itu akan muncul dalam ekspresi dan pasti tersampaikan kepada lawan bicara. Tentu saja hubungan dengan pihak tersebut akan menjadi kaku dan situasi akan menjadi sangat sensitif. Setiap orang pasti memiliki sisi baik dan siri buruk. Dengan hanya melihat sisi baik, diri kita dan orang lain akan merasakan senang dan bahagia. Tetapi, jika terlalu dekat dengan orang lain, bagaimanapun juga akan muncul kesempatan untuk bersentuhan dengan sisi buruk mereka. Berikan jarak secukupnya antara diri sendiri dengan kolega atau rekan, dengan begitu hal-hal sisi buruk orang lain tidak akan terlalu mengganggu.


4. Sendiri itu baik adanya

Ketakutan yang teramat besar akan kesendirian menciptakan penderitaan akibat kompromi dan menyesuaikan diri demi menyenangkan orang lain secara berlebihan. Jika kita menginginkan hubungan manusia yang lebih baik, hargai waktu untuk diri sendiri. Kita adalah tuan bagi diri masing-masing. Bisa jadi, inilah hal penting yang mendasar.


5. Sabar akan prosesnya

Saat kita bekerja dan mendapatkan banyak pesan dari berbagai pihak untuk “lebih berusaha” atau “terus berkembang,” sehingga timbul perasaan “harus meningkatkan hasil lebih dari siapapun.” Perlu diingat dan ditekankan pada diri sendiri bahwa buah kehidupan tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat. Tiap orang memiliki hal yang seharusnya dihargai dalam setiap momen hidupnya. Ketika rasa tidak sabar muncul, hargai “momen saat ini.” Jangan melihat ke atas atau ke bawah, ke masa lalu atau masa depan.


Perasaan dan kenyataan yang kerap kali bertolak belakang sering membawa penderitaan bagi jiwa dan hati yang kurang lapang. Padahal jiwa yang tenang akan membawa kebaikan. Yuk, rekan-rekan, mulailah hidup damai tanpa berpikir secara berlebihan, agar setiap harinya kita dapat menjalani kehidupan ini dengan pikiran dan hati yang tenang. 


Salam #PeopleDevelopment!