INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

PENTINGNYA SELF TALK, PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL

Self Talk

Post by. Yunira Noor Rachmah & Aulia Rachma

Date: June 23, 2022

Rekan-rekan, pernahkah merasa sedih tetapi tidak memiliki teman untuk bercerita? Ketika masalah datang, rekan-rekan merasa tidak ada seorang pun yang menyemangati bahkan membantu. Jika rekan-rekan pernah mengalami situasi tersebut, solusinya adalah rekan-rekan perlu self talk atau berteman dengan diri sendiri.


Dalam buku “The Art of Self Talk-ing” (2022) yang ditulis oleh Nisrina P. Utami, self talk berarti dialog diri. Konsep self talk ini berbeda dengan konsep inner dialogues, perbedaan mendasar diantara keduanya adalah pada siapa perbincangan atau percakapan itu ditujukan.


Self talk terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:



1. Self talk positif

Self talk positif yaitu kata yang diucapkan berdampak positif bagi diri sendiri, misalnya “Aku yakin aku pasti bisa melewati masalah yang kuhadapi saat ini!.”


2. Self talk negatif

Self talk negatif yaitu kata yang diucapkan berdampak negatif bagi diri sendiri biasanya diucapkan pada saat tidak percaya diri, misalnya “Kok jerawat aku banyak banget ya?!.”


3. Self talk netral

Self talk netral yaitu kata yang diucapkan berupa kalimat objektif, misalnya “Duh, cape banget! Aku butuh istirahat nih.”


Mengapa self talk perlu untuk dilakukan? Ketika seseorang melakukan self talk, maka ia akan lebih sadar dan peka terhadap apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan. Kita juga dapat mengontrol emosi yang kita rasakan. Dalam hal ini, emosi tidak hanya berupa kemarahan, tetapi juga rasa sedih, cemas, takut, bahkan bahagia. Dengan begitu, kesehatan mental kita dapat terjaga. Self talk juga dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Ketika kita berteman dengan diri sendiri, maka kita dapat memperbaiki cara berpikir dan dapat menyelesaikan masalah dengan cara berfokus pada apa yang menjadi penyebab atau akar dari permasalahan tersebut.


Berteman dengan diri sendiri memanglah tidak mudah. Rasanya seperti harus menyapa teman lama. Meskipun sudah saling sapa selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah ada perbincangan lain setelahnya. Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang bisa rekan-rekan lakukan, yaitu:



1. Mengenal Diri Sendiri

Langkah utama untuk self talk adalah mengenal diri sendiri. Sama seperti ketika rekan-rekan ingin berteman dengan orang lain, tentu rekan-rekan harus berkenalan terlebih dahulu dengan orang tersebut, seperti menanyakan nama, hobi, hal yang disukai dan hal yang tidak disukai, dsb. Kita bisa memulai untuk mengenal diri sendiri dengan mencari tahu terhadap apa yang kita sukai atau tidak. Dalam proses ini, tentu kita harus lebih banyak mengeksplorasi hal-hal baru. Misalnya, jika sebelumnya rekan-rekan tidak pernah menulis puisi, rekan-rekan bisa mencobanya. Jika sudah mencoba dan mendalami, rekan-rekan bisa menyukainya. Menulis puisi juga dapat meluapkan perasaan yang sedang kita rasakan sehingga akan memiliki dampak positif bagi kesehatan mental.



2. Menyadari Kebutuhan Diri Sendiri

Menurut teori dari Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia terbagi menjadi lima jenis, yaitu kebutuhan psikologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan penghargaan dan percaya diri, serta kebutuhan aktualisasi diri.


Ketika salah satu kebutuhan kita tidak terpenuhi, maka kita cenderung lebih sensitif atau mudah tersinggung, mudah marah, menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain. Akibatnya, kita menjadi lebih mudah memberikan penilaian negatif terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Kita juga menjadi lebih stres dan tidak bisa mengontrol diri. Misalnya, ketika kamu merasa lapar, tetapi atasanmu meminta kamu untuk melakukan suatu pekerjaan yang dibutuhkan selesai dalam waktu cepat. Tentunya, reaksi yang muncul adalah perasaan kesal karena kebutuhanmu tidak terpenuhi. Alhasil, pekerjaan yang kamu kerjakan menjadi tidak maksimal.


Agar dapat menyadari kebutuhan diri sendiri, rekan-rekan dapat melakukan tiga langkah ini, yaitu memahami situasi yang terjadi, menyadari respons diri yang muncul dan mengidentifikasi kebutuhan diri. Situasi yang dimaksud di sini adalah suatu kejadian yang membuat kita merasa tidak nyaman, sedangkan respons diri merupakan suatu reaksi perasaan yang muncul saat peristiwa tersebut terjadi, dan kebutuhan diri merupakan tindakan yang dibutuhkan oleh diri kita. Misalnya, ketika rekan-rekan ingin ke kamar mandi, tiba-tiba di depan pintu kamar mandi ada kecoa, padahal rekan-rekan fobia terhadap kecoa, sehingga rekan-rekan merasa takut dan tidak jadi masuk ke kamar mandi. Dalam hal ini, situasi yang terjadi adalah adanya kecoa di depan kamar mandi, sedangkan respons diri yang muncul yaitu perasaan takut, dan kebutuhan diri yaitu membutuhkan bantuan orang lain untuk memindahkan kecoa tersebut.


3. Menyadari Pikiran dan Perasaan

Pikiran manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu kesadaran, pra-sadar dan bawah sadar. Bagian kesadaran terdiri atas pikiran, ingatan, harapan dan perasaan yang dapat kita ingat dan sadari. Bagian pra-sadar terdiri atas hal-hal yang dapat muncul ke sisi kesadaran kita. Sedangkan, bagian bawah sadar merupakan ruang penyimpanan ingatan. Pada bagian bawah sadar inilah tempat mekanisme pertahanan diri kita. Misalnya, ketika kita mengobrol dengan seseorang, lalu kita merasa tersinggung dengan orang tersebut, tetapi kita justru mengatakan bahwa kita tidak tersinggung. Sebenarnya, tanpa kita sadari sikap tersebut merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri, yaitu kita menyangkal atau mengabaikan emosi kita yang sebenarnya. Oleh karena itu, agar bisa self talk atau berteman dengan diri sendiri kita perlu jujur dengan pikiran dan perasaan kita.


4. Menyembuhkan Luka Batin

Terkadang, kita tidak menyadari bahwa luka batin bisa disebabkan dari kejadian di masa lalu atau saat masa kecil. Luka batin juga bisa disebabkan karena kebutuhan diri yang tidak terpenuhi. Dari kecil kita terbiasa untuk mengobati luka fisik, tetapi kita tidak pernah mengetahui cara untuk mengobati luka batin. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk menyembuhkan luka batin. Kita perlu berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu untuk bisa menyembuhkan luka batin. Berdamai dengan diri sendiri artinya kita sudah mampu memaafkan dan bersikap tenang ketika mengingat peristiwa tersebut. Berdamai dengan sendiri memanglah tidak mudah. Kita membutuhkan waktu yang relatif lama untuk bisa berdamai dengan sendiri dan kejadian di masa lalu. Cobalah untuk menghilangkan rasa dendam atas kejadian masa lalu dan belajar menerima apa yang sudah terjadi.


Sebenarnya rekan-rekan bisa meluapkan perasaan yang sedang dirasakan dengan melakukan self talk. Self talk bukan berfokus pada bagaimana kita bisa berdialog dengan diri sendiri tetapi lebih berfokus pada mendengarkan diri sendiri. Misalnya, ketika rekan-rekan masih merasa sakit atas kejadian masa lalu, rekan-rekan bisa melakukan self talk dengan jujur terhadap perasaan sendiri, seperti “Saat ini aku masih merasa sakit atas kejadian itu, tapi selanjutnya aku akan belajar untuk memaafkan dan tidak dendam atas kejadian itu.” Jadi, rekan-rekan tidak perlu menyangkal terhadap apa yang sedang dirasakan. Dengan begitu, rekan-rekan akan lebih menghargai dan mendengarkan diri sendiri.


Salam #PeopleDevelopment!