INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

TENTUKAN ARAH HIDUP DALAM KEBAHAGIAAN

TENTUKAN ARAH HIDUP DALAM KEBAHAGIAAN

Post by. Yunira Noor Rachmah & Alfira Fauzia

Date: September 29, 2021

“Apakah kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda pilih? Buku "Berani Tidak Disukai" menyajikan jawabannya secara sederhana dan langsung. Berdasarkan teori yang dikemukakan salah satu dari tiga psikolog terkemuka abad ke sembilan belas selain Freud dan Jung, Alfred Adler, buku ini mengikuti percapakan yang terjalin antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Dalam lima percakapan yang terjalin, sang filsuf membantu muridnya memahami bagaimana masing-masing dari kita mampu menentukan arah hidup kita, bebas dari belenggu trauma masa lalu dan beban ekspektasi orang lain.”


Dalam buku “Berani Tidak Disukai” (2020), Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga menjelaskan secara garis besar bahwa hidup bahagia itu bukan hal rumit, asal kita mampu mengubah pola pikir, membuang rasa ingin diakui untuk mendapat pujian dari orang lain. Maka dari itu, kita perlu membaginya menjadi konsep berbagi tugas. Menurutnya, tugas kita ada dua: Pertama, pilih dan lakukan apa yang kita percaya. Kedua, bagaimana orang lain melihat pilihan dan apa yang kita lakukan; tugas orang lain yang tentu saja tidak bisa kita kendalikan atau kontrol.

Kita sebagai manusia tidak hidup untuk semua harapan orang lain. Kita tidak akan pernah merasa bahagia jika semua komentar dijadikan beban yang wajib dituruti dan terlalu memikirkan apa kata orang, merasa rendah diri, yang akhirnya menimbulkan rasa tidak bahagia.

Selain itu, Kishimi dan Koga pun menjelaskan bahwa fakta seseorang menyukai kita atau tidak itu bukanlah tugas kita. Sekali pun ada seseorang yang berpikiran buruk tentang kita, kita tidak bisa mengintervensinya, seperti pepatah dalam buku ini “Adalah wajar bila seseorang berupaya membawa seekor kuda ke air. Tapi apakah kuda itu minum atau tidak. Itu bukanlah tugasnya.” Selain itu, keberanian untuk bahagia juga mencakup keberanian untuk tidak disukai. Ketika kita sudah memperoleh keberanian ini, seluruh hubungan interpersonal kita akan segera berubah menjadi sesuatu yang ringan.


Intinya adalah kita tidak bisa hidup dengan mengikuti dan menyesuaikan ekspektasi orang lain. Kalau kita hidup dengan cara ingin memuaskan ekspektasi dan mempercayakan hidup pada orang lain, itu merupakan cara hidup yang sedang mendustai diri sendiri. Diri kita sendirilah yang memperpanjang dusta pada orang-orang di sekitar kita.  Singkatnya, “kebebasan berarti tidak disukai oleh orang lain”. Ini bukti bahwa kamu sedang menggunakan kebebasanmu, dan tanda bahwa kamu hidup dengan prinsip-prinsipmu sendiri.

Bahagia berawal dari pikiran kita. Maka singkirkanlah semua hal yang tidak penting dalam pikiran dan jadilah bahagia sekarang juga. Mari perkaya jiwa dan matangkan diri. Dan faktanya, rekan-rekan, ternyata kunci menjadi bahagia itu sederhana: berani menjadi manusia yang tidak disukai.

Salam #PeopleDevelopment!