INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

BALADA CITAYAM FASHION WEEK

Citayam Fashion Week

Post by. Thomas Adrian

Date: July 11, 2022

Rekan-rekan, beberapa pekan ini kita akrab mendengar istilah Citayam Fashion Week. Dilansir dari Kompas.id, Citayam Fashion Week merupakan sebuah fenomena berkumpulnya para muda-mudi dari kawasan aglomerasi Jakarta di daerah Sudirman-Thamrin. Mereka paling banyak berkumpul di Kawasan Stasiun BNI City yang dikenal memiliki ruang terbuka yang bagus dan estetik. Lalu muncul diksi Fashion Week karena para muda-mudi itu tak hanya sekadar berkumpul, mereka juga mengenakan pakaian dengan bermacam-macam gaya sesuai keinginan individu masing-masing. Berkat kehadiran mereka pula, SCBD pun berubah kepanjangannya menjadi: Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok.


Banyak pihak menilai bahwa cara berpakaian mereka norak, terlalu ramai aksesoris atau tabrak warna yang menyakiti mata, atau bahkan tidak sesuai dengan daerah yang mereka datangi. Maklum, bagi yang tak tahu, Kawasan Sudirman-Thamrin, bersama Kuningan, merupakan kawasan yang kerap dikatakan sebagai Segitiga Emas karena ketiga area tersebut adalah pusat perekonomian Jakarta; banyak kantor-kantor yang bernaung di sana.


Tak adil bila kita langsung melabeli mereka dengan sebutan yang bersifat negatif seperti anak alay, norak, atau sebutan lainnya. Yang mungkin kita tak sadari, para muda-mudi ‘peserta’ Citayam Fashion Week ini sebenarnya sedang melakukan apa yang kita kenal sebagai proses Personal Branding. Kok bisa? Mari bahas lebih lanjut.


Berangkat dari definisinya, Timothy O’Brien dalam bukunya yang berjudul The Power of Personal Branding mengatakan bahwa Personal Branding adalah identitas sebuah individu yang mampu menciptakan respons emosional terhadap orang lain yang berkaitan dengan nilai serta kualitas yang dimiliki individu tersebut.


Lebih lanjut, pada unggahan Instagram, Gramedia Academy pernah membahas juga soal strategi membangun Personal Branding, yaitu: mengenali diri sendiri, menentukan tujuan Personal Branding, menentukan target Personal Branding, dan memperluas jaringan.


Jika mengacu pada definisi dan strateginya, maka para muda-mudi Citayam Fashion Week sudah melakukan Personal Branding dengan tepat. Mereka sudah mampu membangun identitas yang dapat menciptakan respons. Hal ini terbukti dari naiknya tajuk Citayam Fashion Week dan munculnya nama-nama tokoh seperti Bonge, Codet, Jeje, Roy, dan lainnya. Kita merespons atas kehadiran dan gaya berpakaian mereka.


Selain itu, mereka juga telah melakukan strategi Personal Branding dengan baik: mereka mampu mengenali diri dengan memakai pakaian yang membuat mereka merasa cocok dan keren; karena mereka ingin tampil keren. Selain itu, muda-mudi ini tahu mau apa dan harus ke mana untuk menunjukkan eksistensi mereka. Mereka butuh ruang dan mereka temukan itu di Kawasan Sudirman-Thamrin. Mereka tahu bahwa mereka harus ke sana untuk menunjukkan bahwa mereka keren dan harus diakui sebagai orang yang keren oleh sebayanya. Dengan adanya tempat berkumpul dan minat yang sama, mereka juga mampu membangun jaringan pertemanan atau relasi.


Mungkin proses Personal Branding yang mereka lakukan tidak bisa disamakan dengan proses yang dilakukan oleh para profesional karena perbandingannya tidaklah apple-to-apple. Tapi Citayam Fashion Week adalah sebuah contoh sederhana bagaimana muda-mudi seperti Jeje, Roy, dan Bonge mampu membangun Personal Branding, sehingga ketika kita mendengar frasa Citayam Fashion Week, maka pikiran kita langsung tertuju kepada tiga nama tersebut. Itu sama saja ketika kita merujuk air mineral, yang kita sebut adalah Aqua, bukan?


Sudah, lupakan sejenak soal riuh Citayam Fashion Week dan segala problema serta dinamikanya. Lupakan sisi negatif yang ada, ambil sisi positif yang tersedia. Karena bisa jadi, mereka mampu menerapkan Personal Branding lebih baik daripada kita kebanyakan. Akan lebih baik dan bermanfaat bila rekan-rekan meningkatkan kemampuan pribadi dengan mengikuti pelatihan dan membangun Personal Branding dengan baik daripada mencaci ‘peserta’ Citayam Fashion Week yang sudah mampu membentuk persepsi diri mereka sendiri.


Salam #PeopleDevelopment!


Sumber gambar: KOMPAS.com/ANNISA RAMADANI SIREGAR