INQUIRY
CONTACT
Gramedia Academy

MENYOAL SIDE HUSTLE

Menyoal Side Hustle

Post by. Thomas Adrian

Date: September 12, 2022

Rekan-rekan, sandwich generation sudah menjadi hal umum pada dunia modern. Mungkin rekan-rekan sendiri juga mengalaminya; di mana harus memenuhi kebutuhan diri sendiri, tapi ada anak dan/atau orang tua yang juga harus dipenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, semua akan UUD, alias Ujung-ujungnya Duit. Blak-blakan saja, untuk memenuhi kebutuhan tiga generasi – diri sendiri, anak, dan orang tua – memang memerlukan dana yang banyak. Terlebih lagi para generasi kekinian, yang katanya lebih menyukai pemenuhan batin seperti makan atau jalan-jalan, butuh biaya untuk menuruti kebutuhannya. Berangkat dari kebutuhan dan situasi keuangan tersebut, maka para pekerja umum melakukan side hustling.


Side hustle, dikutip dari kamus daring Cambridge, adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan (dan dibayar) di samping pekerjaan utama yang dilakukan. Dengan terbuka lebarnya akses belajar, pelatihan, serta lokakarya untuk menguasai sebuah bidang, maka peluang seseorang untuk melakukan side hustle juga terbuka lebar. Dilansir dari Kompas.com, banyak hal yang bisa dijadikan side hustle, misalnya menjadi fotografer, penerjemah, pengajar atau tutor secara daring, atau bahkan trading. Bagi yang senang menulis bisa menjadi penulis lepas. Bagi yang senang membuat konten video atau lainnya bisa menjadi content creator. Bagi yang senang bermain gim, bisa jadi gamer; selain bisa ikut kejuaraan atau lomba, gamer juga bisa membuat konten melalui siaran langsung di berbagai platform yang tersedia. Intinya, apa saja bisa jadi side hustle asal rekan-rekan mendalaminya. Tapi pertanyaan besarnya bukan itu, tapi lebih ke, “Apakah hal itu salah secara aturan perusahaan dan etikanya?”


Menyoal aturan perusahaan biasanya akan berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan lain, yang mana harus rekan-rekan cermati sebelumnya. Tapi jika menyebut soal etika, sebenarnya mungkin tidak masalah, lho! Mengutip wawancara Peter Febian, seorang Key Opinion Leader (KOL), pada siaran radio Smart FM, sebenarnya karyawan yang memiliki side hustle adalah sesuatu yang lumrah, bahkan dianjurkan. Selain itu, pada umumnya perusahaan tidak akan menuntut mereka yang melakukannya. Hanya saja, Peter Febian menambahkan, memang ada beberapa catatan yang harus diperhatikan, yaitu jangan sampai pekerjaan utama jadi terbengkalai akibat pekerjaan sampingan itu serta jangan sampai menimbulkan konflik kepentingan.


Lalu apa yang harus dipikirkan sebelum melakukan pekerjaan tambahan untuk menunjang keuangan? Yang pertama dan utama adalah manajemen diri. Kegagalan dalam manajemen diri, baik soal waktu atau pekerjaan, akan menyebabkan apa yang rekan-rekan lakukan jadi kacau. Boro-boro side hustle, pekerjaan kantor yang utama saja tidak akan selesai kalau begitu. Cara menyiasati ini semua adalah mungkin rekan-rekan bisa side hustling di akhir pekan. Jangan sampai karena side hustle setitik, rusak semua pekerjaan. Lalu yang kedua adalah wawasan. Ini penting karena jangan sampai mengerjakan sesuatu tanpa mengetahui bagaimana caranya, peraturannya, atau ilmu penunjangnya. Jangan sampai kurangnya wawasanmu jadi bumerang bagi side hustle-mu.


Penutup artikel ini akan meminjam dan mengubah sedikit lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama: Side Hustle boleh saja, asal ada perlunya.”


Salam #PeopleDevelopment!


Sumber:

•        https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/side-hustle

        https://youtu.be/mq2_M2EFG7U 

•        https://money.kompas.com/read/2022/06/16/132600226/5-ide-side-hustle-yang-bisa-dilakukan-generasi-sandwich-dari-rumah